Selasa, 23 Desember 2008

Alhamdulillah...

Alhamdulillah

Pagi ini, hari kedua masuk di kantor baru, masih cari-cari jalur alternatif menuju kantor…
Dan sepertinya, dari beberapa jalur alternatif, ternyata jarak tempuh dan waktu tempuhnya hampir sama....
Dengan kata lain yang lebih gamblang, semua jalur adalah jalur macet...
Jadi ya.... cap cay deh……
Ya, gapapalah….
Dengan Bismillah, semoga langkah ini menjadi pemberat catatan baik di hari nanti....
Amin...

Di sela-sela kemacetan lalu lintas, terdengar samar-samar hp ku berbunyi....
”tit tit. Tit tit.. begitu bunyinya....” he he....

Karena masih sibuk mengatasi kemacetan, akhirnya aku putuskan untuk tidak menanggapinya...

Alhamdulillah...

Sesampai di kantor, segera terlintas dalam pikiranku, kayaknya tadi ada telpon deh...
Dengan cepat, aku ambil hp ku....

Oh... dari adikku ternyata....
Ada apa ya? Nelponnya kok di jam-jam yang tidk biasa...
Biasanya adik nelpon, kalo gak pagi-pagi sekali sebelum jam berangklat kantor, atau malam setelah pulang kantor...
Ada apa gerangan?

Karena penasaran, langsung saja aku telpon balik.....

Tuuut tuuuutttt............

”nomor yang anda hubungi, tidak menjawab.... cobalah beberapa saat lagi....”

Wah ada apa nih...

Telpon ibu aja deh...

Langsung aku telpon ke hp ibuku....

”Assalamu’alaikum wr wb....”
Terdengar suara dari ratusan kilo meter diseberang telpon...
Suara yang selalu aku rindukan....
Suara yang sekarang tidak selalu aku dengar setiap hari...
Suara orang yang sangat aku hormati, aku sayangi.....
Bapakku...

”Alhamdulillah...”
Kata Bapak mengawali pembicaraan...
”Adikmu diterima sebagai PNS”

Alhamdulillah....

Lega rasanya....
Setelah sekian lama menunggu, Setelah beberapa kali ikutan tes... akhirnya adikku diterima jadi PNS....

Alhamdulillah...

Segera aku telpon kembali adikku...
”Assalamu’alaikum... Alhamdulillah mas, aku keterima....”

Serasa hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan bagi keluarga besar kami....

Terlintas dalam fikiranku, firman Allah SWT dalam QS Ibrahim ayat 14, yang artinya:

”Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".”


Senin, 22 Desember 2008

Takbiratul Ihram


Alhamdulillah, hari ini, kantorku pindahan....
Tempat baru, semangat baru...
InsyaAllah...

Ada sedikit cerita menarik, waktu tadi mo sholat dluhur...
Karena tempat yang baru masih belum rapi, tempat yang seharusnya jadi musholla, dijadikan gudang tumpukan lemari-lemari kayu yang belum dirakit kembali...

Bersama teman-teman, kita pindahin deh tuh lemari-lemari kayu....
Walaupun tidak bisa dipindahin semua, musholla sudah lumayan bisa dipakai....
Setelah kita bersihin, baru kepikiran... lho, dimana karpet musholla kita yang lama?
Telusur-punya telusur, ternyata karpet musholla sedang di-laundre-in dan belum kering....
Akhirnya, aku dan beberapa temen sholat dluhur di masjid PLN, yang kebetulan deket dengan gedung kantorku...
Setelah menitipkan sepatu, aku segera bergegas menuju tempat wudlu....
Sholat dluhur akan segera dimulai...
Setelah selesai mwngambil wudlu, ternyata sholat udah dimulai....
Terdengar suara imam ”Allaaahu Akbar”...
Seseorang yang tadi wudlu di sebelahku, dari bajunya terlihat bahwa dia seorang satpam, dengan serta-merta berlari menuju shaf....
Saya lihat juga seorang yang berseragam tentara berlari menuju shaf...
Dalam benakku sempat terlintas....”kan sholat baru dimulai? Kenapa pada lari ya?”
Seketika itu juga dalam terlintas benakku sebuah hadits, tentang keutamaan takbiratul ihram bersama imam.

Dari Anas bin Malik ra berkata: rasulullah saw bersabda: ”barangsiapa yang shalat berjamaah untuk Allah selama empat puluh hari, dimana ia mendapatkan takbiratul ihram bersama imam, maka ditulis baginya dua kebebasan: bebas dari neraka, dan terbebas dari sifat munafik” (HR. Tirmidzi).

Setelah sholat, aku baru sadar, betapa ruginya aku, yang berleha-leha setelah wudlu, tidak bersegera menuju shaf.
Tidak sebagaimana mas satpam dan pak tentara tadi...
Sungguh... mereka begitu faham, betapa begitu besarnya keutamaan takbiratul ihram bersama imam :

”Bebas dari Neraka dan terbebas dari sifat munafik”


Aku sungguh malu....



Jumat, 12 Desember 2008

Rehat Jum'at : Tawakkal


Alhamdulillah...

Its Friday....

Jum'at Ceria...

"Kami berpagi hari dan berpagi hari pula kerajaan milik Allah. Segala puji bagi Allah, tiada sekutu bagi-Nya, tiada Ilah emlainkan Dia, dan pada-Nya tempat kembali."

Pagi ini, terlintas dalam pikiranku, sebuah kata "Tawakkal"...

Cepat ingatanku melayang, aku coba buka-buka file lama, siapa tahu aku pernah menuliskannya...

Alhamdulillah, ternyata ada....

Pagi ini saya ingin sedikit mengingatkan kembali kepada diri saya sendiri.........

Tawakkal.... 

Karena begitu pentingnya masalah tawakkal ini, Ibnul Qayyim mengatakan bahwa tawakkal adalah separoh dari agama dan separohnya lagi adalah inabah, kembali kepada Allah, seperti telah difirmankan Allah dalam surat Hud ayat 88, yang insyaAllah artinya: "Syu'aib berkata: "Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika Aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya Aku dari pada-Nya rezki yang baik (patutkah Aku menyalahi perintah-Nya)? dan Aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang Aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama Aku masih berkesanggupan. dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah Aku bertawakkal dan Hanya kepada-Nya-lah Aku kembali."

Pada bagian akhir ayat disebutkan: “Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali”.

Di sini Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa tawakkal dibagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu:
Tingkatan pertama (I), mengetahui Rabb dengan segenap sifat-sifat-Nya, seperti kekuasaan, perlindungan, kemandirian, kembalinya segala sesuatu kepada Allah, dan lain sebagainya. ini merupakan pijakan awal dalam masalah tawakkal.
Tingkatan kedua (II), yaitu kemantapan hati dalam masalah tauhid. dengan kata lain tawakkal seseorang tidak akan baik kecuali jika tuhidnya juga benar. selagi dalam hati masih ada benih-benih syirik, maka tawakkalnya masih cacat dan ternoda. sejauh mana kebersihan tauhidnya, sejauh itu pula tawakkalnya benar. 
Tingkatan ketiga (III), menyandarkan hati dan bergantung kepada Allah, sehingga tidak ada lagi kekhawatiran di dalam hati. Penyandaran hati dan kebergantungan kepada Allah inilah yang akan mampu membentengi diri kita dari segala macam ketakutan. di sini dapat diambil suatu perumpamaan, yaitu seperti keadan orang yang berhadapan dengan musuh yang sangat banyak, sedangkan dia tidak punya kekuatan untuk menghadapi mereka, lalu dia melihat ada benteng yang pintunya terbuka, kemudian Allah menyuruhnya masuk ke dlam benteng itu dan pintunya ditutup. Dia melihat musuhnya berada di luar, sehingga ketakutannya terhadap musuh dalam keadaan seperti ini manjadi hilang.
Tingkatan keempat (IV), yaitu berbaik sangka kepada Allah. sejauh mana baik sangka kita kepada Allah, maka sejauh itu pula tawakkal kita kepada Allah. oleh karena itu sebagian ulama menafsiri tawakkal adalah berbaik sangka kepada Allah.
Tingkatan kelima (V), Menyerahkan hati kepada Allah, menghimpun penopang-penopangnya dan menghilangkan penghambat-penghambatnya. Di sini ada yang menafsiri, bahwa hendaknya seorang hamba di tangan Allah, seperti layaknya mayit yang berada di tangan orang yang memandikannya, yang bisa membolak-balikkannya menurut kehendak orang yang memandikan itu, tanpa ada gerakan dan perlawanan dari mayit tersebut.
Tingkatan keenam (VI) yang merupakan tingkatan yang tertinggi, yaitu pasrah yang merupakan ruh tawakkal, inti dan hakikat dari tawakkal. yaitu memasrahkan semua urusan kita kepada Allah, tanpa ada tuntutan dan pilihan, tidak ada kebencian dan keterpaksaan. kepasrahan ini diibaratkan seperti kepasrahan anak kecil yang lemah dan tidak mampu menangani urusannya sendiri, dan menyerahkan kepada ayahnya yang mencintainya. anak kecil tersebut tahu bahwa pengurusan ayahnya lebih baik dari pada diurus dia sendiri. dan dia tidak melihat sesuatu yang lebih bermaslahat bagi dirinya kecuali dengan pasrah kepada ayahnya dalam segala urusan. 
jika kita telah sampai pada tingkatan ini, maka insya Allah kita akan meraih ridla Allah. dan ridla inilah buah dari taqwa. 
dengan sedikit uraian di atas kita berharap semoga kita dapat mencapai tingkatan-tingkatan tersebut, hingga kita mendapat ridla Allah, dan pada waktunya nanti, kita berharap kita akan dipanggil oleh Allah dalam keadaan ridla dan diridlai, sebagaimana firman Allah dalam surat al-Fajr 27 - 30, yang insyaAllah artinya: "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,Masuklah ke dalam syurga-Ku."

Pemimpin


Di serambi masjid sebuah desa di kabupaten paling barat di Jawa Timur, seusai sholat Isya, terlihat beberapa pemuda sedang berbincang. Mereka tampak sedang mendiskusikan suatu hal yang menarik. Tampak antusias sekali. Tak heran, kumpulan yang tadinya hanya tiga-empat orang itu bertambah menjadi sekitar sepuluh orang. Tapi, apakah gerangan topik yang sedang mereka bincangkan ? Ya… suksesi…. ternyata masalah “itu” nyampek juga di desa kecil ini. Tapi bukan siapa yang mereka permasalahkan, tapi model pemimpin yang bagaimana yang mereka inginkan. Salah seorang diantara mereka, Luthfi, angkat bicara, “ Menurut saya, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang jujur, adil, bertanggung jawab, tegas, qonaah, berwawasan luas dan ……. “Maaf”, tiba-tiba yang lain memotong, “ Mungkin kalau sebatas kriteria-kriteria seperti itu, kita semua sudah tahu, tolong Antum (kamu, red) berikan contoh konkretnya.” Oh ya, begini.., kata si Luthfi memulai penjelasannya. “ Suatu hari ketika masih kanak-kanak, Abdullah bin Umar datang menemui ayahnya sambil menangis. “Mengapa Kau menangis wahai putraku?” tanya sang ayah. “Ayah! Teman-temanku telah menghitung tambalan yang ada pada jubahku sambil mengejekku. Mereka bilang bahwa putra Amir Al-Mukminin pakai baju compang-camping.” “Berapa banyak tambalan yang ada pada bajumu?” tanya sang ayah. “Kira-kira empat belas tambalan,”jawab si anak. Umar bin Khattab, ayah yang duduk sebagai pemimpin tertinggi dari sebuah pemerintahan Islam yang sangat besar tidak berkomentar apa-apa. Baginya, ketika seorang ayah menjadi penguasa tidak berarti anaknya lantas memperoleh seluruh keistimewaan dan fasilitas. Dia harus tunduk pada sistem Islami yang telah ditentukan oleh Al-Quran, dalam aspek apapun, terutama aspek keuangan. Setelah mendengar keluhan anaknya tersebut, Umar pergi. Kemudian terpikir olehnya untuk meminjam uang sekadarnya dari Baitulmal atau kas negara. Kelak pada awal bulan setelah gajian, dia akan segera membayarnya. Kemudian dia menulis sepucuk surat kepada bendahara Baitulmal. Isinya sebagai berikut : Kepada Bendahara Baitulmal yang terhormat. Saya mohon pinjaman sebesar empat dirham. Insya Allah pada awal bulan besok, setelah pembagian gaji dari Baitulmal, saya akan segera melunasinya. Si bendahara tidak langsung kaget menerima surat dari khalifah. Dia juga tidak cepat-cepat mengambil uang dari Baitulmal untuk dikirim ke khalifah. Dia mengamati surat itu agak lama. Dia tahu betul bahwa pemimpinnya ini bukan jenis penguasa yang sering memanfaatkan amanat rakyat untuk kepentingan pribadinya. Umar bin Khattab r.a dikenal sebagai pemimpin yang adil dan tegas. Bukan saja dia adil terhadap rakyatnya, melainkan juga adil terhadap anak-anaknya dan dirinya. Apabila dirinya terbukti salah dalam menjalankan amanat Allah, dia segera akan menegurnya dan mendahulukan amanat tersebut. Apabila dia dihadapkan kepada dua kepentingan, kepentingan anak dan kepentingan Islam, maka dia akan mendahulukan kepentingan agamanya. Sifat Umar seperti ini sudah dikenal luas oleh rakyatnya, juga oleh sang bendahara ini. Kemudaian si bendahara menjawab surat dari Umar tersebut dalam bentuk pertanyaan : Kepada Amir Al-Mukminin Umar bin Khattab. Telah saya baca surat Anda tentang permohonan pinjaman dari uang Baitulmal. Saya sekedar ingin bertanya, apakah Anda berani menjamin bahwa diri Anda pasti tetap hidup sampai akhir bulan sehingga saya bisa menagih Utang Baitulmal dari Anda? Seandainya ajal menjemput Anda sebelum bulan ini berakhir, apakah Anda bisa mempertanggungjawabkanya di hadapan Allah? Wassalam. Ketika Umar membaca surat ini, tidak terasa air matanya mengalir membasahi pipinya. Sebagaimana bendahara, khalifah ini juga tahu bahwa meminjam uang dari Baitulmal sah-sah saja asal kelak dibayar dengan jujur. Namun akan terlalu berat resikonya apabila tidak dapat membayarnya apalagi sampai mengabaikannya. Bukankah ia adalah uang seluruh rakyat yang harus dipertanggungjawabkan kepada seluruh rakyat. Bayangkan menjarah hak satu orang saja sudah sangat dimurkai oleh Allah, apalagi menjarah hak rakyat banyak. “Mungkin ada pendapat lain? kata Luthfi mengakhiri penjelasannya. Tapi tak ada satupun jawaban dari mereka, entah apa ( atau siapa … ) yang sedang mereka pikirkan.